Bahas Pendidikan di Tengah Pandemi, 7 Organisasi Pelajar Tingkat Nasional Nyatakan Sikap

0
1

WARTA MILENIAL – Jakarta 27 Juli 2020 Ditengah Pandemi Covid-19, 7 Organisasi pelajar tingkat Nasional yang terdiri dari Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar PERSIS (IPP), Ikatan Pelajar PERSIS Putri (IPPi), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul  Ulama (IPPNU),  dan Ikatan Pelajar Nahdatul Wathan (IPNW), selenggarakan pertemuan daring via zoom membahas Hak Anak dan Masa Depan Pendidikan Indonesia.

Singgung Soal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
Organisasi poros pelajar tingkat pusat dalam pernyataan tertulisnya menilai bahwasannya:
1. Pembelajaran Jarak  Jauh (PJJ) Amburadul dengan tidak adanya sinkronisasi  antara pemerintah pusat dengan daerah

2.Pembelajaran Jarak Jauh menjadi dilematis tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia mulai dari dana BOS yang hanya di tujukan bagi platform digital sehingga dana pengembangan kreativitas siswa menjadi terhambat.

3.banyak kesenjangan sosial dan ekonomi yang terjadi, pendidikan di tengah pandemi hanya bisa dinikmati bagi mereka yang memiliki uang.


Nyatakan Sikap Terkhusus Untuk Kemendikbud
Selain Berdiskusi Membahas Hak Anak dan Masa depan Pendidikan Indonesia via daring, 7 organisasi pelajar tingkat Nasional Memberikan 9 Poin Pernyataan Sikap:
  1. Indonesia dibangun atas dasar kesatuan dari Sabang sampai Merauke dengan beragam Ras, Suku, Budaya dan Agama sehingga pendidikan merupakan amanah konstitusional yang harus di benahi terlebih dahulu. Pendidikan adalah hak semua manusia di Indonesia, bukan semata-mata mereka yang memiliki uang saja yang bisa mendapatkan akses pendidikan, tetapi mereka yang miskin dan berada dikawasan 3T perlu dan wajib mendapat pendidikan.
  2. Pemerintah Pusat yg dalam hal ini Kemendikbud harus terjun langsung dalam melindungi dan menjaga anak-anak termasuk mendapat akses pendidikan baik secara tatap muka maupun daring, khusus ditengah wabah covid-19 perlu diingat tidak semua daerah mendapatkan akses dan ketersediaan internet maupun gawai, hal ini harus diprioritaskan agar tidak terjadi kesenjangan yang nyata antara anak daerah dan perkotaan karena seluruh anak-anak di Indonesia memiliki hak yang sama untuk sekolah
  3. Organisasi Poros Pelajar Tingkat Pusat mendesak KEMENDIKBUD mencari solusi pembelajaran yang sekarang menelantarkan anak-anak yang termarjinalkan, yang tidak punya laptop dan gawai untuk akses pembelajaran.
  4. Kami Organisasi Poros Pelajar Tingkat Nasional mengingatkan kepada pemangku kebijakan yang dalam hal ini pemerintah pusat untuk lebih fokus dalam memperbaiki nasib pendidikan di Indonesia.
  5. Kami Organisasai Poros Pelajar Tingkat Pusat menekankan arti pentingnya pendidikan karakter dan pendidikan yang berpihak kepada pelajar serta pemerintah harus hadir ditengah anak-anak bukan persoalan fasilitas tetapi berbentuk kepedulian dan memberikn hak serta kewajiban terhadap anak.
  6. Mengutuk keras lambatnya gerak KEMENDIKBUD dalam mengatasi kesenjangan pendidikan yang terjadi di Indonesia.
  7. Kepada KEMENDIKBUD agar bisa fokus dalam membangun pendidikan ditengah pandemi Covid19.
  8. Kami Poros Pelajar Indonesia mengecam keras kebijakan Kemendikbud yang sangat tidak tepat sasaran ditengah Pandemi Covid-19 ini seperti progam POP serta lebih baik dana tersebut di alokasikan bagi pelajar dan guru-guru honorer yang terdampak.
  9. Terkhusus Kemendikbud untuk mengkaji ulang sejarah organisasi besar Indonesia yang selama ini terus fokus dalam mencerdaskan Bangsa Indonesia yang jauh sebelum negara ini merdeka. 
Sementara itu Arman Nurhakim Selaku ketua Ikatan Pelajar PERSIS dalam keterangan tertulisnya menambahkan, “kita akan menghadapi bonus demografi 2030-2040 nanti, anak-anak sekolah yang sekarang lah akan mengisi kursi-kursi itu. Pada masa itu pun kita yang saatnya berada di sana meneruskan perjuangan ayah, ibu, dan para founding father kita. Maka hal yang perlu kita persiapkan dari sekarang bagaimana pendidikan kita berorientasi untuk menghasilkan masyarakat yg madani.” 

Ia juga menambahkan bahwasannya, “Salah satu hal kecil yang sering kita sepelekan tapi mepunyai impac besar ialah persoalan sejarah. Kadang kita berjalan ke arah yg lebih baik juga perlu diimbangi dengan tinjauahn historis, kita sebagai generasi penerus, pelanjut estafeta jangan sampai kehilangan identitas., jangan sampai lupa akar dan hilang benang merah.”